MANAJEMEN ISLAM VS MANAJEMEN KONVENSIONAL
Ilham Saumi
1601104010011
Pengertian manajemen dalam konsep Islam dan konvensional tentunya memiliki arti yang berbeda. Jika kita bandingkan antara paradigma manajemen Islam dengan manajemen konvensional tentu didalamnya memilki perbedaannya tersendiri. Dalam perspektif Islam memandang bahwa keberadaan manajemen sebagai kebutuhan yang tidak terelakkan dalam memudahkan implementasi Islam dalam kehiduan pribadi, keluarga dan masyarakat. Aplikasi manajemen menyentuh semua bidang kehidupan beserta seluruh aspeknya dari hulu hingga hilir. Berkenaan dengan manajemen organisasi Islam memandangnya sebagai suatu wadah sebagaimana komunitas dan masyarakat yang lebih luas yang hanya akan terjadi bilamana terdapat kesamaan maslahat didalamnya. Pada dasarnya terdapat perbedaan-perbedaan yang sangat nampak antara manajemen Islam dengan mananjemen konvensional.
Pengembangan pemikiran modern oleh negara-negara barat telah berlangsung sangat dinamis. Sedangkan masyarakat muslim belum begitu optimal dalam mengamalkan manajemen Islam. Dan itu bisa menyebabkan masyarakat muslim cenderung menggunakan sistem manajemen konvensional. Jika masyarakat muslim mengetahui yang sebenarnya bagaimana cara menjalankan manajemen Islam mungkin masyarakat muslim akan segera meninggalkan penggunaan manajemen konvensional dan segera kembali menuju kepada manajemen Islam. Karena dengan menggunakan manajemen syari’ah dalam kehidupan di dunia itu dapat membawa hidup kita akan berjalan lancar ketika di dunia dan akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat.
Diantara perbedaan-perbedaan manajemen Islam dengan manajemen konvensional itu sangat tampak jelas pada visi, misi, dan metodelogi yang diterapkan oleh keduanya manajemen tersebut.
Pertama, visi antara manajemen Islam dengan manajemen konvensional tentunya berbeda. Jika visi manajemen Islam berdasarkan kepada iman, sedangkan manajemen konvensional berprinsip kepada ideologis komersil. Dalam Islam itu sendiri iman berarti meyakini. Berbicara tentang iman berarti berbicara tentang keyakinan atau aqidah, ini berarti hubungan iman dengan manajemen tidak bisa dipisahkan juga. Manajemen yang diterapkan dalam Islam seorang pemimpin itu harus mempunyai iman, yaitu percaya atau meyakini akan Allah, dan percaya bahwa rasulullah adalah utusan Allah. Jika seorang pemimpin mempunyai iman maka ia merasa setiap apa yang dia lakukan selalu dalam pengawasan Allah. Hal ini berbeda dengan perilaku dalam manajemen konvensional yang sama sekali tidak terkait bahkan terlepas dari nilai-nilai tauhid. Orang-orang yang menerapkan manajemen konvensional tidak merasa adanya pengawasan melekat, kecuali semata-mata pengawasan dari pemimpin atau atasan. Setiap kegiatan dalam manajemen Islam diupayakan mejadi amal saleh yang bernilai abadi. Seseorang yang mempunyai iman dan dia seorang pemimpin pasti dia tidak berani melakukan hal-hal terlarang dalam agama yaitu mementingkan diri sendiri dengan mengabaikan kepentingan bawahannya ataupun kepentingan bersama sebagaimana rencana manajemen yang telah ditetapkan. Seorang pemimpin yang beriman dia akan menyerahkan diri kepada Allah dan dia yakin apapun yang dia lakukan hasilnya pasti Allah yang menentukannya. Kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan yang berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW, oleh karena itu sosok pemimpin yang disyariatkan adalah pemimpin yang beriman sehingga hukum-hukum Allah harus ditegakkan agar keadilan dan kebenaran dapat terjamah oleh orang-orang yang tertindas dan terdzalimi baik itu dari kalangan muslim maupun non muslim karena pada hakikatnya Islam itu adalah rahmat bagi seluruh alam. Dalam manajemen konvensional visinya berbanding terbalik dengan manajemen Islam. Visi manajemen konvensional adalah ideologi komersil yaitu dalam melakukan manajemen untuk mendapatkan keuntungan. Dan kita sebagai orang muslim juga sudah sepatutnya memillih peminpin yang beriman semasa kita hidup di dunia. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imraan ayat 28 yang berarti :
“janganlah orang-orang mengambil (memilih) orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, lepaslah ia dari pertolongan Allah.” (Q.S Ali Imraan : 28).
Kedua, misi manajemen Islam adalah amal/ibadah, sedangkan misi manajemen konvensional adalah profesionalisme produksi. Seperti yang kita ketahui bahwa tujuan peciptaan manusia adalah menyembah penciptanya yaitu Allah swt. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam al-Qur`an surat adz-Dzariat ayat 56
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaku.” (Q.S adz-Dzariat: 56).
Allah mengutuskan manusia ke muka bumi ini adalah sebagai khalifah ataupun pemimpin. Dalam konsep Islam melakukan manajemen juga bertujuan ibadah karna telah melakukan perintah Allah untuk menjadi khalifah. Contohnya seorang muslim yang melakukan manajemen organisasi dan memimpinya yang bertujuan untuk kemajuan Islam. Jika menajemen konvensional misinya untuk mendapatkan keuntungan yang mana keuntungan tersebut akan kita rasakan langsung semasa di dunia, perlu kita ingat bahwa manajemen Islam adalah untuk mencapai tujuan di akhirat nanti. Jika niat kita untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia maka Allah tidak akan memberikan kebahagiaan lagi di akhirat karena niat kita bermanajemen demi kemakmuran di dunia bukan niat untuk ibadah kepada Allah. Pada hakikatnya manusia adalah abdi Allah (abdullah) bukan hamba dari harta, tahta, wanita, teknologi, bahkan pikirannya sendiri. Setelah manusia mengenai dirinya, baru ia siap untuk berpaling ke dunia empiris (objektif) untuk mengemban tugas dan fungsinya sebagai “khalifatullah fil ardhi” atau wakil Allah di muka bumi. Tetapi tidak sembarang orang bisa dianggap sebagai wakil Allah di muka bumi. Hanya orang-orang tertentulah yang bisa mengemban amanah wakil Allah di muka bumi, yaitu mereka yang hatinya bersih.
Dalam manajemen konvensional atau dalam dunia modern sekarang ini sudah banyak orang yang berfalsafah “materialisme”, yaitu suatu paham hidup bahwa hidup ini tidak lebih dari soal materi. Yang menjadi dasra untuk melakukan segala aktivitas di dunia ini senantiasa diilhami oleh motif-motif materi sehingga segala ukuran manfaat dan hasil akan sangat tergantung dari materi. Kegagalan dan kesuksesan hidup senantisa diukur hanya dengan materi. Dalam Islam manusia mencintai harta kekayaan dibolehkan, tetapii dengan paradigma rukun pasangan, manusia dalam mencintai materi dunia tidak boleh meninggalkan aspek akhiratnya karena hidup di dunia mempunyai pasangan hidup di akhirat, sehingga apapun yang dilakukan di dunia ini mempunyai implikasi pada kehidupan akhirat bagi manusia pada umumnya.
Ketiga, dalam metodelogi manajemen Islam menempatkan syariah sebagai pedoman dasar yang mempunyai prinsip baik spesifik dalam keterpaduan yang optimum yang berlaku universal dan sepanjang zaman, yang paripurna dan sempurna. Itu berbeda dengan manajemen konvensional yang metodeloginya menetapakn kepercayaan terhadap kekuatan akal untuk menemukan kebenaran-kebenaran metafisik yang final. Kekuatan keterbatasan akal menyebabkan keterpaduan prinsip-prinsip, baik secara global maupun spesifik, terus berevolusi ke arah kesempurnaan melalui empasan-empasan koreksional yang berjalan.
Dalam Islam manajemen itu dijalankan berdasarkan aturan-aturan Allah. Aturan-aturan yang tertuang di dalam Al-Qur’an, hadis dan beberapa contoh yang dilakukan oleh para sahabat. Manajemen yang yang dikonsepsikan Al-Qur’an merupakan suatu hal yang sangat mendasar, untuk mengelola hubungan sesama manusia maupun alam lingkungannya. Manajemen Islam merupakan suatu pengelolaan untuk mencapai hasil optimal yang bermuara pada pencarian ridha Allah. Sebenarnya ilmu manajemen Islam isinya juga berhubungan dengan ilmu manajemen konvensional, namun manajemen syariah telah diwarnai dengan syari’at Allah yang dijelaskan melalui Al-Qur’an dan melalui hadits-hadits yang diwahyukan Allah kepada rasulullah ataupun yang telah dipraktekkan rasulullah ataupun sahabat pada masanya. Pada umumnya orang-orang melakukan aktivitas ekonomi pada khususnya manajemen untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya dengan kerja yang minimum. Dalam manajemen Islam juga berprinsip seperti itu, namun dalam Islam telah diatur supaya bisa menyeimbangkan dengan aktivitas untuk mempersiapkan bekal di akhirat nanti. Karena hidup kita bukan cuma di dunia tapi kita juga akan menjalani kehidupan di akhirat nanti.
Dengan menjalankan manajemen sesuai syari’at Allah itu tidak akan membuat sistem manajemen terasa kuno kapanpun kita melakukan aktivitas manajemen. Itu berbeda dengan manajemen konvensional yang menjalankannya berdasarkan kepercayaan-kepercayaan pada pemikiran-pemikiran yang dihasilkan oleh akal manusia. Pemikiran-pemikiran manusia pada suatu saat akan termakan oleh waktu dan bisa berubah kapan saja sistem manajemen tersebut. Yang lebih parah lagi pemikiran manusia tersebut ada yang bertentangan dengan syariat Allah dan yang dibawakan oleh rasulullah. Ketika kita melakukan aktivitas bertentangan dengan syari’at Allah itu tidak akan diridhoi oleh Allah, bahkan akan diminta pertanggungjawaban di akhirat nanti, karena setiap pemimpin itu akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.
Manajemen Islam juga juga berasaskan pada nilai-nilai kemanusiaan yang berkembang dalam masyarakat. Berbeda dengan manjemen konvensional, ia merupakan suatu sisten aplikasinya bersifat bebas nilai serta hanya berorientasi pencapaian manfaat duniawi semata. Pada awalnya manajemen ini diwarnai dengan nilai-nilai, namun dalam perjalanannya tidak mampu. Karena, ia tidak bersumber dan berdasarkan petunjuk syari’ah yang bersifat sempurna, komprehensif dan kebenaran. Rasul dan para sahabat telah menggunakan manajemen untuk mengatur kehidupan dan bersandar pada pemikiran manajemen Islam yang bersumber dari nash Al-Qur’an dan petunjuk rasulullah dalam hadits.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwasanya terlihat jelas perbandingan antara manajemen Islam dengan manajemen konvensional. Dalam manajemen syari’ah lebih menekankan kepada nilai-nilai aqidah, ibadah dan syariah. Sedangkan manajemen konvensional lebih kepada hasil di dunia semata. Dalam konsep menjalankan konsep manajemen Islam, yang baik-baik dalam manajemen konvensional juga diterapkan dalam manajemen Islam. Namun manajemen syari’ah tidak menerapkan yang bertentangan dengan konsep dasar dan prinsip hukum utama yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah, serta tidak bertolak belakang dengan rincian hukum syara’ yang telah dimaklumi.
0 Comments